terkini

Iklan

KPUM UIAD Disorot, Mahasiswa Tuntut Transparansi dan Keadilan Pemilu Kampus

Jejak Info
Jumat, 29 Agustus 2025, 14:27 WIB Last Updated 2025-08-29T06:55:32Z

Kampus UIAD Sinjai

JEJAKINFO.COM, SINJAI
-- Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa (Presma-Wapresma) serta SENAT Mahasiswa di Universitas Islam Ahmad Dahlan (UIAD) Sinjai seharusnya menjadi ruang demokrasi yang sehat, transparan, dan berkeadilan. Namun, dalam proses kontestasi terakhir, muncul dinamika yang menimbulkan kontroversi serta kekecewaan di kalangan mahasiswa. 


Hal ini bermula dari keputusan penyelenggara pemilu mahasiswa yang dinilai tidak konsisten dalam menegakkan aturan. Pasalnya terdapat 2 pasangan calon (Paslon) Presma dan wapres yang mendaftarkan diri dan setelah mengikuti tahap verifikasi administrasi, kedua pasangan calon (paslon) diketahui sama-sama tidak memenuhi syarat administratif yang telah ditetapkan.


Tetapi keputusan yang diambil Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) UIAD diduga diskriminatif karena satu paslon digugurkan, sementara paslon lainnya tetap diloloskan untuk maju dalam pemilihan.


Kondisi tersebut memicu keresahan dan perlawanan dari berbagai elemen mahasiswa. Mereka menduga bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk kecurangan sistematis yang mengancam marwah demokrasi kampus. 


Mosi tidak percaya terhadap panitia dilayangkan dan mahasiswa UIAD mendesak agar proses pemilihan dijalankan secara adil dengan menerapkan standar yang sama bagi semua kandidat tanpa memandang kepentingan kelompok tertentu.


Penolakan terhadap tindakan KPUM ini tidak hanya sebatas kritik terhadap penyelenggara, melainkan juga menjadi refleksi atas pentingnya integritas dalam kepemimpinan mahasiswa. 


Sebagaimana pemilihan Presma dan wapresma diadakan untuk melahirkan pemimpin yang mampu memimpin dan mewakili aspirasi serta menjaga nama baik UIAD Sinjai tentunya tidak boleh berangkat dengan kepemimpinan yang lahir dari proses cacat hukum dan sarat manipulasi tidak akan mampu membawa aspirasi mahasiswa secara murni.


Karena itu, sikap kritis dan perlawanan terhadap kecurangan adalah bentuk nyata dari tanggung jawab moral untuk menjaga demokrasi kampus tetap hidup, sehat, dan berdaulat di tangan mahasiswa.


Salah satu mahasiswa UIAD Sinjai, Nurhidayah mengatakan, demokrasi mahasiswa adalah ruh yang harus dijaga, bukan dipermainkan. Namun, apa yang terjadi dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa di UIAD Sinjai tahun ini sungguh mencederai prinsip keadilan. 


"Kita semua mengetahui, bahwa dua pasangan calon sama-sama tidak memenuhi syarat yang telah ditetapkan, tetapi ironinya, keputusan panitia justru tebang pilih, satu pasangan calon digugurkan, sementara pasangan yang lain diloloskan tanpa alasan yang jelas," ujarnya. 


"Jangan biarkan suara kita dibungkam oleh permainan yang tidak adil. Sebab, kepemimpinan yang lahir dari kecurangan hanyalah kepemimpinan semu, rapuh, dan tidak berlegitimasi," tegasnya


“Kami tidak menolak siapa pun yang ingin memimpin, tetapi kami menolak segala bentuk kecurangan! Demokrasi mahasiswa harus dijalankan dengan adil, transparan, dan tanpa keberpihakan. Jika aturan ditegakkan, maka tegakkanlah untuk semua, bukan untuk segelintir orang," tambahnya.


Atas dasar itu, pihaknya menyatakan sikap menolak segala bentuk kecurangan dan diskriminasi dalam pemilihan Presma-Wapresma UIAD Sinjai. Mendesak panitia penyelenggara untuk bersikap konsisten, transparan, dan menjunjung tinggi aturan yang berlaku.


Dan, menyatakan bahwa demokrasi mahasiswa adalah hak bersama, bukan alat kekuasaan kelompok tertentu. "Perjuangan ini bukan sekadar tentang siapa yang terpilih, tetapi tentang muruah demokrasi mahasiswa yang harus kita jaga bersama," tutupnya. 


Ketua KPUM UIAD Sinjai, Muhammad Faiz tidak merespons saat dikonfirmasi terkait hal tersebut. (iad) 


Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • KPUM UIAD Disorot, Mahasiswa Tuntut Transparansi dan Keadilan Pemilu Kampus

Iklan Bawah