Pendidikan Agama Islam (Manusia Dan Alam Semesta)

MANUSIA DAN ALAM SEMESTA
Sesungguhnya dilihat dari sudut pandang manusia, yang ada adalah Allah dan Alam (semesta). Allah pencipta, sedang alam yang diciptakan. Alam adalah segala sesuatu yang dapat ditangkap oleh panca indera, perasaan dan pikiran, kendatipun samar-samar. Mulai dari partikel atau zarralh yakni bagian benda yang sangat kecil dan berdimensi sampai kepada jasad (tubuh) yang besar-besar, dari yang inorganik sampai pada yang organik, dari yang paling sederhana susunan tubuh nya sampai kepada yang sangat penting kompleks (rumit, saling berhubungan) seperti tubuh manusia. Ruang dan waktu (space and time) adalah alam. Juga manusia termasuk alam atau bagian alam semesta (Osmarn
Raliby, t 3-4).

Tentang Allah akan dijelaskan dalam Sebelum Allah menciptakan Adam sebagai manusia pertama, alam semesta telah diciptakanNya dengan tatanan kerja yang teratur, rapi, dan serasi. Keteraturan, kerapian dan keserasian alam semesta dapat dilihatpada dua kenyataan. Pertama, berupa keteraturan, kerapian, dan keserasian dalam hubungan alamiah antara bagian-bagian di dalamnya dengan pola saling melengkapi dan mendukung. Perhatikan, misalnya, apa yang diberikan matahari untuk kehidupan alam semesta Selain berfungsi sebagai penerang di waktu siang, matahari juga berfungsi sebagai salah satu sumber energi bagi kehidupan. Dari pancaran dan gerak edarnya yang bekerja menurut ketentuan Allah, manusia dapat menikmati pertukaran musim, perbedaan suhu antara satu wilayah dengan wilayah lain. Semua keteraturan dan ketentuan yang disebabkan sistem kerja matahari itu, pada perkembangannya kemudian membentuk sistem keteraturan dan ketentuan lain yang telah ditetapkan oleh Allah. Ingatlah, misalnya, iklim suatu daerah yang berpengaruh pada keanekaan potensi alam, jenis flora dan fauna yang tumbuh dan ada di daerah itu. Kedua, keteraturan yang ditugaskan kepada malaikat untuk menjaga dan melaksanakannya (BasofiSoedirman, 1995:1).

Kedua hal itulah yang membuat berbagai keserasian, kerapian dan keteraturan yang kita yakini sebagai Sunnat─▒ullah yakni ketentuan dan hukum yang ditetapkan Allah. Melalui Sunnatullah inilah, bumi dan alam semesta dapat bekerja secara sistemik (menurut suatu cara yang teratur rapi) dan berkesinambungan tidak berubah-ubah, tetap saling berhubungan, berketergantungan dan sekaligus secara dinamis saling melengkapi. Perhatikanlah, misalnya, bagaimana mata hari bekerja menurut ketentuan Allah.Sejak diciptakan sampai akhir zaman, insya Allah, matahari tetap berada pada titik pusat tata surya yang berputar mengelilingi sumbunya. Dalam proses itu, menurut penelitian para
ahli, gerak matahari selalu ketinggalan 3 menit 56 detik dari bintang-bintang yang ada di tata surya. Karena keterlambatan itu, dalam waktu 365 hari (jumlah hari dalam satu tahun) matahari sudah melintasi sebuah lingkaran besar penuh di langit.

Setiap waktu, secara teratur dan tetap matahari menyiramkan energinya kepada alam semesta, tanpa
bergeser dari posisi yang ditetapkan Allah baginya. Bumi, sebagai bagian alam semesta, menyerap sinar matahari yang turun secara tetap, tidak berubah-ubah. Menurut para ahli, sebesar seperdua milyar bagian dari seluruh pancaran matahari yang meluncur ke bumi. Dari satu bagian tata surya saja dapat dilihat kenyataan, begitu luar biasanya keteraturan, kerapian, keserasian, dan keseimbangan yang ada pada ciptaan Allah. Tanpa ketepatan (presisi) yang sangat cermat (akurat), mustahil bumi, sebagai bagian tata surya, dapat mendukung kehidupan dengan keseimbangan
yang serasi. Sistem kerja seperti inilah secara faktual membuat para ahli ilmu falak dapat meramalkan berbagai peristiwa alam seperti gerhana matahari dan bulan, pergantian musim, curah hujan, prakiraan cuaca, dan sebagainya yang sangat bertautan dengan ketentuan-ketentuan yang telah menjadi hukum dalam sistem alam semesta (Basofi Soedirman, 1995: 2-3).


Dalam lingkup yang lain, bisa pula dilihat baca mana Sunnatullah (ketetapan atau ketentuan-ketentuan Allah) berlaku pada benda atau makhluk lain yang sepintas lalu, dianggap tidak berguna, namun ternyata bermanfaat dan mempengaruhi benda atau makluk lainya. Lihatlah, bagaimana tumbuh-tumbuhan yang membusuk atau kotoran hewan yang memiliki sunnatullah pada dirinya berguna sebagai pupuk untuk menumbuhsuburkan tanaman.

Demikianlah kekuasaan dan kebesaran Allah dalam ciptaan-Nya yangmenyebabkan masing-masing bagian alam ini berada dalam ketentuan yang teratur rapi, hidup dalam suatu sistem hubungan sebab akibat. Sampai ke benda yang sekecil apa pun, ketentuan Allah ada dan berlaku, baik secara mikrokosmetik (berlaku terbatas pada zat benda kecil itu) maupun dalam skala makrokosmetik (sistem yang menyeluruh) suatu benda atau zat membentuk Sunnatullah baru melalui jalinan
hubungan yang dibentuknya. Sunnatullahatau hukum Allah yang menyebabkan alam semesta selaras, serasi dan seimbang dipatuhi sepenuhnya oleh partikel atau zarrah yang menjadi unsur alam semesta itu. Ada tiga sifat utama Sunnatullah yang disinggung dalam al-Quran yang dapat ditemukan
oleh ahli ilmu pengetahuan dalam penelitian. Ketiga sifat itu adalah (1) pasti, (2) tetap dan (3) objektif (Imaduddin Abdulrahim, 1966:30). Sifat Sunnatullah pertama adalah pasti atau tentu disebut pada ujung ayat2al-Quran surat 25 (al-Furgan). vang terjemahannya (lebih kurang) berbunyi sebagai
berikut, ..."Dia telah menciptakan sesuatu, dan Dia (pula yang) memastikan (menentukan) ukurannya dengan sangat rapi." Di penghujung ayat 3 surat 65 (at-Talaq) Allah berfirman, terjemahannya (lebih kurang),.."sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan (kepastian) bagi tiap sesuatu Sifat Sunnatullah yang pasti, tentu itu menjamin dan memberi kemudahan kepada manusia membuat
rencana. Seseorang yang memanfaatkan Sunnatullah dalam merencanakan satu pekerjaan besar, tidak perlu ragu akan ketepatan perhitungannya. Karena, kalau dia bekerja menurut Sunnatullah, Allah menjamin kebenaran perhitungannya. Dan, setiap orang yang mengikuti dengan cermat ketentuan-ketentuan yang sudah pasti itu, bisa melihat hasil pekerjaan yang dilakukannya. Karena itu pula, keberhasilan suatu pekerjaan (usaha atau amal) dapat diperkirakan lebih dahulu.Jika dalam pelaksanaan suatu rencana atau pekerjaan ternyata orang itu kurang atau tidak berhasil, dapat
dipastikan perhitungannyalah yang salah bukan kepastian atau ketentuan yang terdapat dalam Sunnatullah.

Manusia yang salah membuat suatu perhitungan atau perencanaan dengan mudah dapat menelusuri kesalahan perhitungan dalam perencanaannya Kenyataan tersebut di atas didukung oleh sifat
Sunnatullah kedua yaitu tetap,tidak berubah-tuibah. Sifat ini terdapat dalam bagian ayat 115 surat al-An'am (6) yang terjemahannya (lebih kurang) sebagai berikut ada yang sanggup mengubah kalimat-kalimat

Allah. Dalam bagian ayat 77 surat al-Isra' (17) Allah menyatakan sebagai berikut (terjemahannya lebih kurang), "Dan engkau tidak akan menemui perubahan dalam Sunnah Kami...." Sifat itu selalu terbukti dalam praktik, sehingga seorang perencana dapat menghindarkan kerugian yang mungkin terjadi kalau suatu rencana dilaksanakan. Dengan sifat Sunnatullah yang tidak berubah-ubah itu, seorang ilmuwan dapat memperkirakan gejala alam yang akan terjadi dan memanfaatkan gejala alam itu. Seorang ilmuwan, karena itu dengan mudah memahami gejala alam yang satudikaitkan dengan gejala alam lain yang senantiasa mempunyai hubungan yang konsisten (taat asas) Sifat Sunnatullah yang ketiga adalah objektif. Sifat ini tergambar pada firman Tuhan dalam bagian ayat 105 surat al-Anbiya (21). Disebutkan (terjemahannya lebih kurang), "bahwasanya dunia ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh". Saleh artinya baik atau benar. Orang yang baik dan benar adalah
orang yang bekerja menurut Sunnatullah yang menjadi ukuran kebaikan dan kebenaran itu. Orang yang berkarya sesuai atau menuruti Sunnatullah adalah orang yang saleh atau orang yang baik dan benar. Kebenaran yang terdapat dalam Sunnatullah adalah kebenaran objektif, berlaku bagi siapa saja di mana saja Barangsiapa yang mengikuti atau mematuhi Sunnatullah apa pun pertimbangannya akan mendapat kejayaan dalam hidup dan usahanya di dunia ini. Sebaliknya akan terjadi kalau orang melanggar atau tidak mengikuti Sunnatullah. Ia pasti tidak akan berhasil.

Contoh ekstrim berikut dapat menjelaskan apa yang dikemukakan di atas. Di suatu padang yang luas
tanpa ada bangunan atau pepohonan lain, terdapat dua menara yang menjulang sama tingginya. Satu
adalah menara masjid dan yang satu lagi menara casino tempat bermain judi) dengan papan iklan minuman memabukkan di atasnya. Menara masjid itu tidak memakai penangkal petir karena pertimbangan bahwa masjid adalah bangunan untuk mendirikan shalat dan
menaranya dipergunakan untuk memanggil orang mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah. Menara casino dengan iklan minuman haram di atasnya, memakai penangkal petir memenuhi Sunnatullah. Kalau hujan datang dengan petir sambung-menyambung yang kena sambar lebih dahulu adalah menara masjid yang tidak berpenangkal petir, tidak mengikuti Sunnatullah. Dari uraian singkat ini jelas bahwa Sunnatullah itu objektif tanpa pilih kasih. Apa atau siapa saja yang tidak mengikutinya, bahkan melanggar Sunnatullah mendapat hukuman. Apa pun alasan pelanggaran itu,
termasuk kebodohan dan kealpaan di dalamnya (Imaduddin Abdulrahim, 1966: 26-35). Alam semesta yang mengandung dan patuh sepenuhnya kepada hukum, ketetapan dan ketentuan yang disebut Sunnatullah itu, berasal dari suatu masa yang kemudian berdiferensiasi menjadibenda-benda langit Benda-benda langit berbeda-beda sifat dan ukurannya Ada yang mengeluarkan sinar sendiri yang disebut ng, ada pula yang tidak mengeluarkan sinar disebut planet (benda langit yang tidak mengeluarkan panas dan bergerak mengelilingi matahari secara tetap).

Yang termasuk bintang ialah matahari dan bintang-bintang lainnya.Sedang yang termasuk planet misalnya bumi, bulan, mars, yupiter, venus, saturnus dan seterusnya. Bintang dan planet itu tidak terhitung banyaknya. Selain itu, ada lagi batu-batu kecil melayang di angkasa, yang kadangkala jatuh ke bumi, disebut meteorit (benda padat sisa meteor yang telah mencapai permukaan bumi, biasanya terdiri atas ikatan mineral nikel dan besi). Benda-benda langit itu membentuk kelompok seperti gugus Bimasakti (gugusan bintang kecil-kecil beribu-ribu banyaknya sehingga kelihatan sebagai lajur
cahaya).Jumlah gugusitu tidak terhitungpula banyaknya. Benda-benda langit, baik berkelompok maupun sendiri-sendiri bergerak secara teratur, walaupun geraknya bermacam-macam. Bulan, misalnya, mengelilingi bumi dalam29/30hari. Bulansambil mengelilingi bumi juga mengelilingi matahari dalam waktu 365/366 hari. Bumijuga berputar di sekitar porosnya dalam waktu 24 jam. Matahari, yang dulu disangka diam, ternyata bergerak juga sedikit dari utara ke selatan bolak-balik, yangmenyebabkan pergiliran musim.Gerakanbenda-benda langit itu,baiksendiri-sendiri mau
pun berkelompok sangat teratur, arahnya tetap, kecepatannya pun tetappula."Tidaklah mungkin matahari mengejar bulan dan tidak dapat pula malam mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya,"demikian (lebihkurang) terjemahan firman Tuhan dalamsurat Yasin (36):40. Keteraturanitu terjadi karena

Sunnatullah yang telah disebut di atas. Dan karena keteraturannya, alam semesta dapat dimanfaatkan
manusia. "Tidakkah kamu perhatikan, sesungguhnya Allah telah menyerahkan untuk (kepentingan)-mu semua isi alam semesta (baik yang di langit maupun yang di bumi) dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir batin ..." demikian (lebih kurang) bunyi terjemahan surat Luqman (31) ayat 20 (Supan Kusumamiharja, 1985:83).

Demikianlah alam semesta diciptakan Allah dengan hukum-hukum yang berlakubaginya yang (kemudian) diserahkan-Nya kepada manusia untuk dikelola dan dimanfaatkan. Pengelolaan dan pemanfaatan alam semesta beserta semua isinya dipercayakan Allah kepada manusia yang merupakan bagian alam semesta itu sendiri. Manusia yang diberi "wewenang" mengelola
dan memanfaatkan alam semesta diberi kedudukan "istimewa" sebagai khalifah. Khalifah arti harfiahnya adalah pengganti atau wakil. Menurut ajaran Islam manusia, selain sebagai abdi diberi kedudukan sebagai khalifah mengelola dan memanfaatkan alam semesta terutama 'mengurus'bumi ini. Agar dapat menjalankan kedudukannyaitu,manusia diberi bekal berupa potensi di antaranya adalah akal yang melahirkan berbagai ilmu sebagai alat untuk mengelola dan memanfaatkan
alam semesta serta mengurus bumi ini. Ketika Adam sebagai manusia diangkat menjadi khalifah di bumi, mengajarkan kepadanya ilmu pengetahuan tentang "nama-nama (benda)." Dalam bagian pertamaayat 31 surat al-Baqarah (2) Allah menyatakan.

0 komentar

Posting Komentar